sumber : Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah
3. Al-Lafazhat (Kata-Kata Atau Ucapan)
Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal yang satu ini adalah dengan cara mencegah keluarnya kata-kata atau ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin berbicara, hendaklah seseorang.melihat dulu; apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkin kan ada keuntungannya, dia melihat lagi; apakah ada kata-kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Kalau Anda ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang maka lihatlah ucapan lidahnya. Ucapan itu akan menjelaskan kepada Anda apa yang ada dalam hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka.
Yahya bin Mu’adz berkata: Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin dan ebagainya.
Ia menjelaskan kepada Anda bagaimana "rasa" hatinya, adalah apa yang dia keluarkan dari lidahnya. Artinya, sebagaimana Anda bisa mengetahui rasa apa yang ada dalam panci itu dengan cara mencicipi dengan lidah, maka begitu pula Anda bisa mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang dari lidahnya, Anda dapat merasakan apa yang ada dalam hatinya dari lidahnya, sebagaimana Anda juga mencicipi apa yang ada di dalam panci itu dengan lidah anda.
Dalam hadits Anas radhiallaahu anhu yang marfu’, disebutkan:
"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqamah (lebih
dahulu), dan tidak akan istiqamah hatinya sehingga lidahnya beristiqamah (lebih
dahulu)."
Nabi pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke
dalam Neraka, beliau menjawab: "Mulut dan kemaluan". At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."
Sahabat Mu’adz bin Jabal pernah bertanya kepada Nabi tentang amal apa yang
dapat memasukkannya ke dalam Surga dan menjauhkannya dari api Neraka. Lalu Nabi memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda:."Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu?" Dia berkata: "Ya, Wahai Rasulullah". Lalu Nabi r memegang lidah beliau sendiri kemudian berkata: "Jagalah olehmu yang satu ini." Maka Mu’adz berkata: "Adakah kita bisa disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab: "Ibumu kehilangan engkau ya Mu’adz, tidakkah yang dapat menyungkurkan banyak manusia di atas wajah mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?" At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."
Dan yang paling mengherankan yaitu bahwa banyak orang yang merasa mudah
dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan
lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kezuhudan dan ibadahnyapun, juga masih berbicara dengan kalimat-kalimat yang dapat mengundang kemurkaan Allah I tanpa dia sadari bahwa, satu kata saja dari apa yang dia ucapkan dapat menjauhkannya (dari Allah dengan jarak) lebih jauh dari jarak antara timur dan barat. Dan betapa banyak Anda lihat orang yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan kotor dan aniaya namun lidahnya tetap saja membicarakan aib orang-orang, baik yang sudah mati ataupun yang masih hidup, dan dia tidak sadar akan apa yang dia katakan.
Kalau Anda ingin mengetahui hal itu, lihatlah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih -nya dari hadits Jundub bin Abdillah, dia berkata: Nabi bersabda:
"
Ada
seorang pria yang mengatakan, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan itu’. Maka Allah berfirman, ‘Siapa orang yang bersumpah bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu’.".Lihatlah, hamba yang satu ini; dia telah beribadah kepada Allah dalam waktu yang cukup lama/panjang, namun satu kalimat yang diucapkannya telah menyebabkan semua amalnya terhapus.
Dan di dalam hadits Abu Hurairah juga dikisahkan cerita seperti itu, kemudian
Abu Hurairah berkomentar: "Dia telah mengucapkan satu kalimat yang dapat menghancurkan dunia dan akhiratnya."
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dari Nabi :
"Sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang termasuk dicintai oleh Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun ternyata Allah berkenan meninggikannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang termasuk dibenci Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun ternyata dengan kalimat itu dia masuk ke dalam Neraka Jahannam." Dalam riwayat Muslim: "Sesungguhnya seorang hamba itu mengucapkan satu kalimat yang tidak jelas apa yang dikandungnya, namun dia dapat menjatuhkannya ke dalam Neraka (yang jaraknya) lebih jauh dari jarak antara timur dan barat."
Dan dalam riwayat At-Tirmidzi dari hadits Bilal bin Al-Harits Al-Muzani dari Nabi :
"Sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan satu kalimat yang dicintai oleh Allah, dia tidak menyangka (pahalanya) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata dengan kalimat itu Allah memberikan kepadanya
keridhaanNya sampai hari dia menjumpaiNya kelak. Dan sesungguhnya seorang
dari kalian terkadang mengucapkan satu kalimat dari yang dimurkai oleh Allah, dia.tidak menyangka (dosanya) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata Allah memberikan kepadanya kemurkaanNya sampai hari dia menjumpaiNya kelak." Alqamah mengatakan: "Betapa banyak ucapan yang tidak jadi aku katakan disebabkan oleh Hadits Bilal bin Al-Harits ini."
Dalam kitab Jami’ At-Tirmidzi, juga dari hadits Anas, dia berkata:
Ada
seorang sahabat yang meninggal, lalu ada seorang laki-laki berkata, ‘Berilah khabar gembira dengan Surga’, maka Nabi bersabda:
"Dari mana kamu tahu? Barangkali dia pernah mengucapkan (kalimat) yang tidak ada guna baginya atau dia pelit untuk (memberikan) sesuatu yang tidak akan membuatnya kekurangan." At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan."
Dalam sebuah lafazh hadits disebutkan:
"
Ada
seorang anak yang meninggal syahid di perang Uhud, lalu ditemukan di perutnya sebuah batu yang diikat untuk menahan lapar. Kemudian, ibunya mengusap debu yang ada di wajahnya sambil mengatakan, ‘Berbahagialah engkau hai anakku, engkau akan mendapatkan Surga’. Maka Nabi r bersabda, ‘Dari mana kamu tahu ?, barangkali dulu dia pernah mengucapkan kata-kata yang tidak berguna baginya dan menahan apa yang tidak memberikan mudharat baginya’."
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dari Nabi :
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja.".Dalam lafazh Muslim disebutkan: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir -bila dia menyaksikan suatu perkara- maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja."
At-Tirmidzi menyebutkan dengan sanad yang shahih dari Nabi , bahwa beliau bersabda:
"Termasuk (salah satu tanda) kebaikan Islam seseorang, yaitu (bila) dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya."
Dan dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi, dia berkata:
"Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam ini suatu kalimat yang aku tidak akan menanyakannya pada seorang pun setelah engkau’. Nabi menjawab, ‘Katakanlah, Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah engkau’. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?’ Kemudian Nabi r memegang lidah beliau sendiri lalu mengatakan, ‘Ini’ (maksudnya : lidah, pent)." Hadits ini shahih.
Dari Ummu Habibah isteri Nabi , dari Nabi , beliau bersabda:
"Semua ucapan anak Adam(manusia) itu akan berdampak negatif kepadanya, tidak akan berdampak positif kecuali; ucapan untuk amar ma’ruf (memerintahkan yang baik), atau nahyi munkar (mencegah perbuatan munkar), atau dzikir kepada Allah ." At-Tirmidzi berkomentar: "Hadits ini derajatnya hasan.".Dalam hadits yang lain disebutkan:
"Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh memberikan peringatan kepada lidah dan berkata, ‘Takutlah engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Bila kamu istiqamah kami akan istiqamah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng’."
Para
ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya, walau hanya sekedar mengucapkan: "Hari ini panas dan hari ini dingin." Sebagian ulama juga ada yang tidur kemudian bermimpi dan dia ditanya tentang keadaannya, lalu dia menjawab: "Aku tertahan oleh satu ucapan yang aku katakan (yaitu : pent),
Aku pernah mengatakan, ‘Oh, betapa butuhnya orang-orang ini akan hujan’. Tiba-tiba ada yang berkata kepadaku, ‘Dari mana kamu tahu itu? Akulah yang lebih tahu akan kemaslahatan hambaKu’."
Seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: "Tolong ambilkan kain untuk kita bermain-main."lalu dia berkata: "Astaghfirullah, aku tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan mengekangnya, terkecuali kata-kata yang tadi aku katakan, keluar dari lidahku tanpa kendali dan tanpa kekang …"
Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, tapi dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri …
Ada perbedaan pendapat antara ulama salaf dan khalaf dalam masalah; apakah
semua yang diucapkan oleh manusia itu semua akan dicatat ataukah ucapan yang baik dan yang jelek saja? Di sini ada dua pendapat, namun yang lebih kuat adalah yang pertama.
Sebagian ulama salaf mengatakan: "Semua perkataan anak Adam itu akan berdampak negatif kepadanya dan tidak akan berdampak positif kecuali ucapan
yang dari Allah dan ucapan yang membela-Nya.".Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata: "Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah". Ucapan itu adalah tawanan Anda, bila dia sudah keluar dari mulut Anda berarti Andalah yang menjadi tawanannya. Allah selalu memonitor lidah setiap kali berbicara:
"Tidak suatu ucapanpun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 18).
Bahaya Lidah
Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Bila seseorang bisa selamat dari salah satu penyakit itu maka dia tidak bisa lepas dari penyakit yang satunya lagi, yaitu; penyakit berbicara dan penyakit diam. Dalam satu kondisi, bisa jadi salah satu dari keduanya akan mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain. Orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu, dia bermaksiat kepada Allah, serta bersikap riya’ dan munafik bila dia tidak khawatir hal itu akan menimpa dirinya. Begitu pula orang yang berbicara dengan kebatilan, adalah setan yang berbicara, dia bermaksiat kepada Allah. Kebanyakan orang sering keliru ketika berbicara dan ketika mengambil sikap diam. Mereka itu selalu berada di antara dua posisi ini.
Adapun orang-orang yang ada di tengah-tengah -yaitu mereka yang berada pada jalan yang lurus- sikap mereka adalah menahan lidah mereka dari ucapan yang batil dan membiarkannya berbicara dalam hal-hal yang dapat membawa manfaat pada mereka di akhirat. Sehingga Anda tidak akan melihat mereka mengucapkan kata-kata yang sia-sia tanpa manfaat, apa lagi sampai mengucapkan kata-kata yang akan membahayakan mereka di akhirat nanti. Sesungguhnya ada seorang hamba yang akan datang pada hari kiamat dengan pahala kebaikan sebesar gunung, namun dia dapati lidahnya sendiri telah menghilangkan pahala tersebut.
Dan ada pula yang datang dengan dosa-dosa sebesar gunung, namun dia dapati lidahnya telah menghilangkan itu semua dengan banyaknya dzikir kepada Allah dan apa yang berhubungan dengannya.
Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk Sebuah Perbuatan)
Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan), hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya.kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala-Nya, bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya. Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yang dilakukannya dengan cara meniatkannya untuk Allah I, dengan demikian maka seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.
Ketergelinciran pada perbuatan salah itu ada dua macam; tergelincir kaki dan tergelincir lidah. Oleh karenanya dua macam ketergelinciran ini digandengkan oleh Allah dalam firmanNya:
"Dan hamba-hamba Ar-Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (Al-Furqan: 63).
Di sini Allah menjelaskan bahwa sifat mereka itu adalah istiqamah dalam ucapan-ucapan dan langkah-langkah mereka. Sebagaimana Allah juga menggandengkan antara Al-Lahadzat (pandangan) dan Al-Khatharat (lintasan pikiran) dalam firmanNya:
"Allah mengetahui khianat mata dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Ghafir:
19).
Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan bagi penjelasan akan diharamkannya zina dan kewajiban menjaga kemaluan, Rasulullah bersabda:
"Yang paling banyak memasukkan orang ke dalam Neraka ialah lidah dan kemaluan."
Dan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi :."Tidak dihalalkan darah seorang muslim kecuali dengan tiga hal; Orang yang sudah kawin lalu berzina, jiwa dengan jiwa (qishah karena membunuh orang) dan orang yang meninggalkan agamanya serta meninggalkan jama’ah."
Dalam hadits ini ada penggandengan antara zina dengan kufur dan membunuh
jiwa, persis seperti yang terdapat dalam ayat pada
surat
Al-Furqan, juga seperti
yang ada dalam hadits Ibnu Mas’ud.
Penggandengan Antara Zina, Kufur , Dan Membunuh Jiwa
Dalam hadits di atas Nabi menyebutkan hal yang paling banyak terjadi secara berurutan. Perbuatan zina itu lebih sering terjadi dibanding dengan pembunuhan, dan pembunuhan lebih sering terjadi dibanding dengan riddah (keluar dari Islam).
Dan kerusakan yang ditimbulkan oleh zina sungguh bertolak belakang dengan kemaslahatan dalam kehidupan. Sebab, bila seorang wanita telah melakukan zina berarti ia telah membuat aib keluarga, suami dan kerabatnya serta mencoreng wajah mereka di hadapan orang-orang. Bila dia sampai hamil kemudian membunuh anaknya, berarti dia telah menggabungkan perbuatan zina dengan pembunuhan, dan jika setelah hamil ia tetap dengan suaminya, berarti dia telah memasukkan pada keluarga si suami dan keluarga si wanita sendiri orang lain yang bukan bagian dari keluarga. Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan lain yang ditimbulkan oleh zina. Jika yang berzina itu adalah seorang pria, maka hal ini -selain hal yang di atas- juga akan menyebabkan simpang siurnya hubungan nasab, kemudian merusak kehormatan wanita yang terjaga dan menjadikannya hancur. Jadi, di belakang perbuatan keji ini (zina) terdapat kerusakan dunia dan agama sekaligus. Sungguh betapa banyak pelanggaran terhadap larangan-larangan (pelecehan terhadap kehormatan), penyia-nyiaan hak orang dan penganiayaan yang ada di balik perbuatan zina.
Di antara dampak yang ditimbulkan oleh zina adalah bahwa zina dapat mendatangkan kefakiran, memperpendek umur dan membuat wajah pelakunya
suram serta mendatangkan kebencian orang.
Termasuk di antara dampaknya pula, bahwa zina itu dapat menghancurkan hati, membuatnya sakit kalau tidak sampai mematikannya, juga mendatangkan
perasaan gundah gelisah dan takut, serta menjauhkan pelakunya dari malaikat
dan mendekatkannya kepada setan. Tak ada bahaya -setelah bahaya perbuatan
membunuh- yang lebih besar dari bahaya zina. Oleh karenanya, untuk menghukum pelaku perbuatan zina ini Allah mensyari’atkan hukuman bunuh
(rajam) dengan cara yang mengerikan. Bila ada seseorang yang mendengar kabar bahwa isterinya dibunuh orang, tentu kabarnya lebih ringan dibanding dia mendengar bahwa isterinya berbuat zina.
Sa’ad bin Ubadah radhiallaahu anhu berkata: "Sekiranya aku melihat seorang pria berzina dengan isteriku, tentu aku akan memenggal lehernya dengan pedang.tanpa pikir panjang lagi." Maka sampai perkataan ini kepada Rasulullah , lalu beliau bersabda:
"Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, sungguh aku ini lebih cemburu dari dia, dan Allah lebih cemburu dari aku, dan oleh karena betapa agungnya kecemburuan Allah, maka Dia haramkan segala perbuatan keji, baik yang lahir maupun yang batin."(Muttafaq ‘alaih).
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
"Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan sesungguhnya seorang mukmin itu juga cemburu. Dan kecemburuan Allah itu akan timbul bila seorang hamba melakukan
apa yang diharamkan kepadanya."
Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
"Tak ada seseorangpun yang lebih pencemburu dari Allah, oleh karena itu Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang lahir maupun yang batin. Tak ada seorangpun yang lebih senang menerima udzur (permohonan maaf) dari Allah, oleh karena itu Dia mengutus para rasul untuk memberikan kabar gembira dan peringatan. Tak ada seorangpun yang lebih senang dipuji melebihi Allah, oleh karena itu Dia memuji diriNya sendiri."
Juga dalam kitab Ash-Shahihain , diriwayatkan khutbah Nabi di saat shalat
gerhana matahari, beliau bersabda:."Hai umat Muhammad, demi Allah, tak ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah ketika ada seorang hambaNya yang laki-laki atau perempuan berbuat zina .
Hai umat Muhammad, demi Allah, sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang
aku ketahui tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Kemudian
beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata: "Ya Allah, adakah aku sudah sampaikan."
Disebutkannya perbuatan dosa besar ini secara khusus setelah shalat gerhana matahari mengandung isyarat rahasia yang menakjubkan; dan semaraknya fenomena zina ini merupakan tanda rusaknya alam ini, dan itu semua adalah
salah satu tanda Kiamat; seperti yang disebutkan dalam Ash-Shahihain , dari Anas bin Malik bahwa dia berkata: Aku akan menceritakan pada kalian sebuah hadits yang tidak akan ada orang yang akan menceritakannya pada kalian setelah aku.
Aku mendengar Rasulullah bersabda:
"Di antara tanda-tanda Kiamat yaitu bila ilmu (syar’i) menjadi sedikit(kurang), dan kebodohan menjadi tampak serta zina juga menyebar (di mana-mana). Pria jumlahnya sedikit dan kaum wanita jumlahnya banyak sehingga untuk
lima
puluh wanita (perbandingannya) satu orang pria."
Salah satu sunnatullah yang diberlakukan pada makhlukNya, yaitu bahwa ketika zina mulai tampak di mana-mana, Allah akan murka dan kemurkaanNya sangat keras, maka secara pasti kemurkaan itu akan berdampak pada bumi ini dalam bentuk adzab dan musibah yang diturunkan.
Abdullah bin Mas’ud berkata: "Tidaklah merajalela riba dan zina di sebuah daerah, melainkan Allah memaklumkan untuk dihancurkan."
Seorang pendeta Bani Israil pernah melihat anaknya sedang merayu seorang perempuan, lalu dia berkata: "Sebentar, wahai anakku!" Kemudian sang ayah itu pingsan di atas tempat tidurnya lalu meninggal, sementara isterinya jatuh dan dikatakan kepadanya: "Beginilah cara engkau marah untukku? Sungguh, orang sejenis kamu itu tidak mengandung kebaikan selamanya."
Pengkhususan Hukuman Zina Dengan Tiga Hal
Allah mengkhususkan hukuman bagi perbuatan zina dibandingkan dengan
hukuman-hukuman lainnya dengan tiga hal.
Pertama, hukuman zina adalah dibunuh (dirajam) dengan cara yang mengerikan. Dalam hukuman zina yang ringan saja, Allah menggabungkan antara hukuman terhadap fisik dengan cambuk dan hukuman terhadap hati/mentalnya dengan cara diasingkan dari negerinya selama satu tahun.
Kedua , Allah melarang hamba-hambaNya untuk merasa kasihan kepada para pelaku zina sehingga mencegah mereka untuk memberlakukan hukuman kepada para pezina itu. Sebab, Allah mensyari’at kan hukuman tersebut didasarkan pada kasih sayang dan rahmatNya pada mereka. Allah itu sangat sayang kepada kalian, namun kasih sayang tersebut tidaklah mencegah Allah untuk memerintahkan berlakunya hukuman ini. Oleh karenanya janganlah kasih sayang yg ada di hati kalian itu mencegah kalian untuk melaksanakan perintah Allah.
Hal ini -walaupun sebenarnya juga berlaku pada seluruh macam hukuman (hudud)yang disyari’atkan- namun disebutkan dalam hukuman zina suatu kekhususan, karena memang sangat penting untuk disebutkan di sini, sebab kebanyakan orang tidak mempunyai perasaan marah dan sikap kasar terhadap
pezina seperti sikap mereka pada pencuri, atau orang yang menuduh berbuat zina atau pemabuk. Hati mereka cenderung lebih kasihan pada pezina ketimbang kepada para pelaku dosa lainnya. Dan realita membuktikan hal itu. Oleh karena itu Allah melarang mereka, jangan sampai rasa kasihan mereka itu membuat tidak diberlakukannya hukuman Allah .
Mengapa rasa kasihan pada mereka itu timbul? Penyebabnya yaitu karena perbuatan zina ini bisa terjadi pada orang golongan atas, menengah dan bawah.
Kemudian, dalam jiwa manusia itu terdapat dorongan yang kuat untuk melakukannya (melampiaskan libido. pent) dan orang yang melakukannya juga
berjumlah banyak. Dan yang paling ba- nyak menjadi penyebabnya ialah cinta;
sementara hati manusia itu secara tabiat, punya perasaan kasihan pada orang
yang sedang jatuh cinta, bahkan banyak di antara mereka yang siap memberikan bantuan pada mereka, walaupun sebenarnya bentuk dari percintaan itu termasuk yang diharamkan. Dan hal seperti ini sudah tidak dipungkiri lagi. Dan hal itu memang sudah diakui oleh orang-orang..Selain itu juga, perbuatan dosa ini (zina) kebanyakan terjadi dengan adanya suka sama suka dari kedua belah pihak, bukan dengan pemaksaan, penganiayaan dan lainnya yang membuat jiwa orang-orang itu geram. Dalam hal ini, syahwat banyak berpengaruh, sehingga timbullah perasaan kasihan yang mungkin akan menghambat ditegakkannya hukuman Allah I. Ini semua timbul dari iman yang lemah. Kesempurnaan iman itu dapat dicapai dengan adanya kekuatan yang dengan itu perintah Allah dapat ditegakkan, juga adanya rahmat (kasih sayang) terhadap orang yang dijatuhi hukuman tersebut, sehingga dia bisa sejalan dengan Allah dalam perintah dan rahmatNya.
Ketiga, Allah memerintahkan agar hukuman terhadap pelaku zina (baik itu cambuk ataupun rajam, pent) hendaknya dilakukan di hadapan khalayak orang-orang mukmin, bukan di tempat yang sepi sehingga tidak ada orang yang dapat menyaksikannya. Hal ini dilakukan agar hukuman tersebut lebih efektif untuk tujuan "zajr" (membuat jera pelaku dan membuat takut orang lain melakukannya). Hukuman bagi pezina yang "muhshan" (sudah berkeluarga) diambil dari hukuman Allah terhadap kaum Nabi Luth’ u yang dilempar dengan batu. Yang demikian itu karena perbuatan zina dan liwath (homoseks yang dilakukan kaum Nabi Luth’ ) adalah sama-sama perbuatan fahisyah (keji dan kotor). Keduanya dapat menimbulkan kerusakan yang bertentangan dengan hikmah Allah di dalam penciptaan perintahNya. Kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan oleh praktek liwath (homosex) itu sungguh sulit untuk dihitung. Orang yang menjadi korban perbuatan tersebut lebih pantas dan lebih baik untuk dibunuh saja; sebab dia itu mengalami kerusakan yang tidak bisa diharapkan untuk baik kembali selamanya.
Semua kebaikannya sudah hilang. Bumi sudah menyerap habis rasa malu dari mukanya, sehingga dia tidak akan malu lagi kepada Allah, juga kepada makhlukNya. Hati dan jiwa orang tersebut sudah dipengaruhi oleh sperma pelaku liwath seperti berpengaruhnya racun dalam tubuh seseorang.
Ada
perbedaan pendapat di antara sebagian orang; apakah orang yang menjadi pelaku liwath itu bisa masuk Surga atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat.
Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan dua pendapat ini.
Mereka yang mengatakan tidak akan masuk Surga memberikan hujjah dengan beberapa hal:.Di antaranya, bahwa Nabi bersabda:
"Tidak akan masuk Surga anak seorang pezina."
Bila nasib dan kondisi anak hasil zina sudah demikian, padahal dia tidak mempunyai dosa apa-apa, hanya saja dia dicurigai sebagai tempat berbagai kejelekan dan kekotoran, serta dia pantas untuk tidak mendatangkan kebaikan apa pun selamanya, disebabkan karena dia tercipta dari nuthfah (sperma) yang kotor; bila tubuh yang tumbuh menjadi besar dengan barang yang haram saja sangat pantas untuk masuk api Neraka, maka bagaimana lagi dengan tubuh yang memang tercipta dari sperma yang haram?
Mereka mengatakan: Orang yang menjadi pelaku liwath itu lebih jelek dari anak
hasil zina, lebih hina dan lebih kotor pula. Dia itu memang pantas untuk tidak mendapat taufik kebaikan. Dia juga pantas dihalangi untuk mendapatkan taufik tersebut. Dan setiap kali dia melakukan amal yang baik, maka Allah akan menggandengkannya dengan amalan lain yang dapat merusaknya, sebagai hukuman baginya. Dan memang jarang kita dapati bahwa orang yang sudah seperti itu di masa kecilnya, kecuali dia akan lebih parah di masa tuanya. Dia tidak berhasil mendapatkan ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan taubat yang nashuha.
Namun setelah diteliti, yang lebih pas untuk dikatakan dalam masalah ini, yaitu bahwa bila orang tersebut bertaubat dan kembali kepada Allah, kemudian
mendapatkan karunia taubat yang nashuha serta amal yang shalih, lalu kondisinya di masa tua lebih baik dari kondisi di masa kecilnya, lalu merubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan berbagai macam kebaikan serta mencuci
aibnya dengan beragam ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah, juga menjaga pandangan matanya, menjaga kemaluannya dari yang haram dan benar-benar jujur kepada Allah dalam mu’amalah-nya, maka orang yang semacam ini akan mendapat ampunan dan dia akan termasuk ahli Surga. Sebab, Allah Maha mengampuni seluruh dosa. Bila taubat itu -kita ketahui- dapat menghapus segala macam dosa, sampai dosa syirik kepada Allah, membantai para nabi dan para waliNya, atau sihir, kufur dan lain semacamnya, maka kita tidak boleh membatasi penghapusan terhadap dosa yang satu ini, padahal, dengan keadilan dan karunia Yang Maha Kuasa, hikmah Allah menetapkan bahwa:."Orang yang bertaubat dari dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa."
Dan Allah sendiri telah memberikan jaminan bahwa barangsiapa yang bertaubat dari perbuatan syirik, pembunuhan jiwa dan zina, Allah akan mengganti perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan-kebaikan, dan ini adalah ketentuan hukum yang umum mencakup setiap orang yang bertaubat dari berbagai macam dosa.
Allah berfirman:
"Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang aniaya terhadap diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni seluruh dosa, seungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Pengasih." (Az-Zumar: 53) Dan tidak akan keluar dari keumuman ayat ini satu macam dosa pun. Namun hal ini hanya khusus bagi mereka yang bertaubat. Bila ternyata orang yang menjadi pelaku perbuatan liwath itu di masa tuanya lebih jelek dari masa kecilnya, tidak mendapatkan karunia taubat nashuha dan amal shalih, tidak segera mengganti ketaatan yang dia tinggalkan dan tidak pula mau menghidupkan apa yang sudah ia matikan, juga tidak mengubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan, maka orang semacam ini sulit untuk mendapatkan husnul khatimah yang dapat memasukkannya ke dalam Surga di saat akan meninggal kelak. Hal itu sebagai hukuman baginya. Sungguh Allah memberikan hukuman atas perbuatan yang jelek dengan kejelekan lainnya, sehingga bertumpuklah hukuman perbuatan jelek yang akan diterimanya, sebagaimana Allah juga memberikan ganjaran bagi sebuah perbuatan baik dengan perbuatan baik lainnya.
Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati Dalam Su’ul Khatimah
Bila Anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut menjemput, Anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan-perbuatan jelek mereka. Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-Syibli berkata : "Ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu -semoga Allah menjauhkan kita darinya- mempunyai penyebab-penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya. Penyebab, jalan dan pintu yang paling besar ialah larut dalam urusan keduniaan, tidak acuh dengan urusan akhirat dan berani melakukan maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, atau sudah terbiasa tidak acuh dan berani melakukan maksiat, sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut, pelita hatinya padam dan terbentuklah hijab yang dapat menutupinya. Akibatnya, teguran tidak akan lagi berguna, nasihat tidak akan lagi bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari sebuah tempat yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu terus mengulangi dan mengulanginya lagi."
Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An-Nashir (salah seorang pemimpin di masa Abbasiyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut, kemudian anaknya berkata: "Ucapkanlah, ‘Laa Ilaaha Illallah !" Orang itu berucap:
"An-Nashir adalah tuanku." Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri dan setelah dia siuman, dia berucap lagi: "An-Nashir adalah tuanku." Begitulah terus menerus. Setiap kali dikatakan kepadanya ucapan "Laa Ilaaha Illallah" dia malah berucap: "An-Nashir adalah tuanku." Kemudian dia berkata pada anaknya: "Hai Fulan, sesungguhnya An-Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan keberanianmu membunuh/ berperang", kemudian dia meninggal dunia..Abdul Haq berkata: "Pernah dikatakan juga pada orang lain -yang saya mengenalnya-: "Ucapkanlah ‘ Laa Ilaaha Illallah’, tiba-tiba dia malah berucap:
"Tolong rumah yang di sana itu diperbaiki dan kebun yang di sana itu, tolong di
kerjakan …"
Abdul Haq juga berkata: "Diantara riwayat dari Abu Thahir As-Silafiy yang dia izinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu kisah bahwa ada seorang pria yang sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya: Ucapkanlah ‘Laa Ilaaha Illallah’. Namun dia malah mengucapkan kata-kata dengan bahasa Persia yang artinya ’sepuluh dengan sebelas’ (maksudnya, boleh berutang sepuluh tapi bayarnya sebelas, pent)."
Dan pernah pula dikatakan pd orang lain lagi:Ucapkanlah ‘Laa Ilaaha Illallah’.Dia malah mengatakan "Mana jalan ke pemandian Manjab?" (nama pemandian).
Kata Abdul Haq: "Kata yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut pintunya
menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba lewat di situ seorang wanita cantik dan bertanya, ‘Mana jalan ke pemandian Manjab? Dia menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya), ‘Ini dia pemandian Manjab itu!’ Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai ke belakang. Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura menampakkan rasa gembira dan suka citanya karena pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu berkata, ‘Sebaiknya (sebelum kita berkumpul), engkau harus mempersiapkan untuk kita apa-apa yang dapat membuat indah kehidupan kita sekaligus menyenangkan hati kita’. Dengan segera pria itu menjawab, ‘Sekarang juga aku akan membawakan untukmu semua apa yang kamu inginkan dan kamu senangi’. Lalu dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak menguncinya. Kemudian dia pun mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke rumahnya. Tapi sayang, si wanita itu telah keluar dan pergi. Sedikitpun wanita itu tidak mengambil apa-apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya menjadi mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita tadi. Dia berjalan di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan:
"Ya Tuhanku, suatu hari, di kala sudah lelah dia bertanya, ‘Mana jalan ke pemandian Manjab?’..Suatu saat, di waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita –dari jendela pintu rumahnya- berkomentar:
"Mengapa -di saat sudah mendapatkannya- tidak dengan segera engkau menutup rumah itu atau mengunci pintunya?"
Mendengar itu, mabuk kepayangnya tambah menjadi-jadi. Begitulah terus kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal dunia."
Suatu malam, Sufyan Ats-Tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu, ada yang bertanya kepadanya: "Adakah semua yang kau lakukan ini karena takut akan dosa?" Lalu Sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata: "Dosa itu lebih
ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan su’ul khatimah."
Sungguh, ini adalah pemahaman yang sangat baik, bila seseorang itu khawatir
bahwa dosa-dosanya akan membuatnya terhina di kala meninggal dunia nanti,
sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah .
Al-Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda’ di saat sakaratul maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan membaca:
"Dan (begitulah) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An’am: 110).
Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.
Abdul Haq juga berkata:
"Ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu -semoga kita dilindungi oleh Allah darinya-tidak akan terjadi pada orang yang secara lahir dia istiqamah dan secara batin dia shalih. Su’ul khatimah akan terjadi pada orang yang dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan mengerjakan kemaksiatan. Barangkali hal itu menjadi kebiasaannya, sehingga kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum dia kembali pada Allah, sehingga saat itu setan berhasil merenggut dan menyambarnya di saat yang genting tersebut. Na’udzu billah !".Diriwayatkan bahwa -di Mesir- dulu ada seseorang yang selalu pergi ke mesjid untuk adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara -seperti biasanya untuk adzan-. Di bawah menara itu ada rumah seorang Nashrani, dia melongok ke dalam rumah tersebut, dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu akhirnya dia tergoda dengannya, lalu dia tinggalkan adzan saat itu, turun menemuinya, dan masuk ke dalam rumahnya. Anak perempuan itu bertanya: "Ada apa, apa yang kamu inginkan?"
Dia menjawab: "Aku menginginkan kamu." Dia bertanya lagi: "Mengapa demikian?"
Dia menjawab: "Sungguh, engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh relung hatiku." Perempuan itu berkata: "Aku tidak akan pernah memenuhi keinginanmu selamanya." Pria tadi menjawab: "Aku akan mengawinimu lebih dahulu." Perempuan itu berkata: "Engkau seorang muslim dan aku nashrani.
Ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu. Lelaki itu berkata: "Aku akan
masuk agama Nashrani!" Maka wanita itu berkata: "Jika kamu lakukan itu, maka aku mau!" Akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat kawin dengannya.
Dia pun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia naik ke loteng yang ada di rumah tersebut, kemudian dia jatuh dan langsung mati. Kasihan, dia tidak berhasil mendapatkan perempuan tersebut dan dia kehilangan agamanya."
Diriwayatkan pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada seseorang. Kesenangan dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu menguasai hatinya.
Bahkan, dia sampai jatuh sakit dan harus tidur beristirahat karenanya. Sementara orang yang dicintai itu tidak mau menemuinya. Dia benar-benar tidak suka dan menjauh darinya. Sementara itu, orang-orang terus berusaha mempertemukan keduanya, sehingga, dia pun berjanji untuk menemuinya. Orang-orang datang membawa kabar tersebut, dia pun gembira dan sangat bersuka cita.
Kesempitan di dadanya pun terasa hilang. Jadilah dia menunggu pada waktu yang sudah ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan
mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan: "Dia sudah berangkat bersamaku sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus mendorong dan merayunya, tapi dia berkata, ‘Orang itu ingat dan menyebut-nyebut aku dan dia pun gembira dengan kedatanganku. Namun aku tidak akan masuk ke tempat yang meragukan. Aku tidak akan mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang mencurigakan.’ Aku terus membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi."
Mendengar hal itu, orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali sakit dengan kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Tanda-tanda kematian sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan:.Wahai Salm, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus. Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku ketimbang rahmat Allah Yang Maha
Pencipta dan Maha Mulia.
Maka (Abdul Haq Al-Asyibly) berkata kepadanya: "Wahai Fulan, takutlah
engkau kepada Allah!!" Dia menjawab: "Semuanya sudah terjadi." Akhirnya aku meninggalkannya. Dan tidak sampai aku melewati pintu rumahnya, hingga aku mendengar dengan nyaring suara kematian. Kita berlindung kepada Allah dari su’ul khatimah.